Pages

A CHILD CALLED 'IT'


Dewasa ini kita sering mendengar peristiwa child abuse - penyiksaan anak. Tetapi apa dan bagaimana sesungguhnya yang dialami dan diderita oleh anak yang menjadi korbannya? Buku ini membuka wawasan kita, mencerahkan dan mendidik. David mengajak kita ikut mengalami rasa takutnya, rasa kekalahannya, rasa kesendiriannya, rasa sakitnya, dan rasa marahnya, sampai pada harapan terakhirnya. Dengan masuk ke dalam alur itu, menjadi jelas bagi kita betapa menyakitkannya dunia gelap yang diderita anak-anak korban child abuse. Bahkan secara lebih detail, kita bisa merasakan tangisan anak-anak itu melalui mata, telinga, dan badan David Pelzer. Dengan membaca buku ini kita juga bahkan bisa merasakan keteguhan hati David untuk keluar dari siksaan yang tak kunjung henti menuju kemenangan.







(Asma Nadia - True Story)

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau
menikah dengan lelaki itu.
Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi
bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakakkakak,
tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang
baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon
limabelas watt.
Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas.
Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana.
Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik,
kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua
Nania yang pintar
berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania
menyampaikan keinginan
Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena
semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah
berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul
senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat
Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita
melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang
melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas,
Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik.
Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata
kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada
tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?
Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,
maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus
iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.
Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris,
juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki
manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhirMama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka
atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak
menyukai Rafli.
Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa,
dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter
kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu
mudah menentukan masa depan
seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'.
Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania
menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di
sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang
Nania,
apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga
menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga
Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia
meladeni Nania.
Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!
Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!
Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka
beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses,
mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan.
Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak.
Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.
Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji
Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab
suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut.
Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania
cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji
yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang
mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania
memiliki suami terbaik di dunia.
Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra.
Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania,
bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk
bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit
dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga.
Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania
menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari
waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania.
Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim
Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan
sakit yang teramat sangat.
Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.


Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu
shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di
sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania
tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan
Nania per lima menit, lalu tiga menit.
Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan
harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan.
Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab
dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah.
Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak
sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.
Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli
tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka
merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di
perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu
dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga
perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,dan langkah-langkah
cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak
berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi
mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh
darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke
rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama
anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu
sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat
hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit,
sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.Walau tak banyak, mulai
terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania
dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali
untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja
mengerti dan memberikan izin penuh.
Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di
ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka,
melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening
istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah,
Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil
menggenggam tangan istrinya
mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan
membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak
bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud danpermohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata
kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orangorang
di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya.
Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau
badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir,
kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah
tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.
Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang
meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu.
Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong
Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan
tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur.
Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan
Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan
sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton
bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan
hal yang sama, selalu melibatkan
Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.
Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong
kursi roda Nania ke sana kemari.
Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga
tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan
iba, namun juga mengomentari,
mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang
penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa
tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka
memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja,
bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka..
Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang
beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa
dia syukuri. Meski tubuhnya
tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah
direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya.
Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia







sumber: http://baca-novelnya.blogspot.co.id/2011/05/cinta-lelaki-biasa.html?q=baca+novelnya+disini...!

0

Under the tree

Oleh:@liljillygum


                                                                      Pertemuan#1

Mata anak kecil itu mulai berair saat Sara akan berbalik untuk memanggil orang tuanya.

"Jangan nangis, aku panggil mama papaku dulu biar aku, kamu dan Cipang bisa diselamatkan."

"Jangan tinggalin aku sendiri disini. Aku gak suka ditinggalin!"

Anak tersebut cemberut sambil memegangi kainnya yang melorot.
Sara membenarkan posisi kain ditanganya sambil menghembuskan nafas panjang.
lalu akhirnya Sara memutuskan untuk memindahkan Cipang dahulu kepinggir jalan lalu berlari kecil menahan sakit dilututnya menuju anak kecil itu.

"Namamu siapa?"

"Soon."

"Soon? Hanya Soon?"

"Mamaku memanggilku begitu."

"Oke Soon, aku Sarania Arnada, panggil aja Sara.
Karena aku tidak suka melihat orang terluka maka aku akan
melupakan masalah Ciping sementara lalu akan membantumu.
Tubuhmu sangat kecil dan rapuh aku tidak akan tega melihatmu babak belur seperti Ciping."

"Siapa Ciping?"

"Ah itu sepedaku yang jatuh gara-gara kamu tidak hati-hati menabrakku."

"Maaf....."

"Sudahlah. Ayo naik."
Sara berjongkok didepannya. Sara memutuskan untuk menggendongnya.
Badannya yang kecil dan kurus membuat Sara bedik membayangkannya menaiki tanjakan ini dengan luka-luka dan kepala yang bocor.

"Aku bisa jalan."

"Tidak ini fasilitas dariku untuk anak baru spertimu. Kamu anak baru kan disini?"

"Iya...."

"Ayo naik!"

"Soon naik ke punggung Sara. Badannya yang kecil tidak begitu memberatkan
Sara namun tetap saja Sara menyerit menahan sakit luka di lututnya."

"Rumahmu yang mana?"

"Rumah coklat dengan halaman yang ada ayunan merahnya!"

"Rumah besar paling pojok itu?"

"Iya, kamu tau?"

"Tentu saja!  Rumah itu besar dan aku selalu bermain di ayunan merah itu.
Kalau begitu aku akan berlari supaya kita cepat sampai atas lalu segera diobati lalu kita
akan segera sembuh lalu kita dapat bermain bersama!"

Soon mengangguk lalu tanpa sengaja melihat luka di lutut Sara.

"Tunggu kita jalan saja, aku ingin menikmati cahaya matahari sore-sore."

"Tidak. Kalau jalan pelan akan lama sampai diatas."

"TIDAK! Kalau kau mau lari turunkan aku disini saja!"

"Kau ini aneh! Aku takut kakimu akan patah dengan luka-luka di
sekujur badanmu yang kecil itu."

"Sara tidak memperdulikan rengekan Soon dan berlari menuju rumah Soon.
Tidak perlu waktu lama Sara sudah sampai dirumah Soon,
Sara mengetuk pintu putih yang kontras dengan dinding kayu coklat rumah Soon. Beberapa waktu kemudian seorang wanita cantik dengan tubuh semampai dan mata yang sama indahnya dengan Soon membukakan pintu rumah itu.
Tak perlu bukti apapun lagi Sara yakin itu adalah orang tua Soon."

"Halo, ada yang bis-ASTAGA APA YANG TERJADI?!"

Mama soon langsung menarik Soon yang sudah turun dari gendonganku, memutar-mutar tubuhnya yang kecil dan luka-luka.


"Tadi kami jatuh di tanjakan tante. Kepala Soon bocor jadi aku buru-buru membawanya kemari.
Tante tolong segera hubungi rumah sakit ya tante."

"OH TUHAN. Terima kasih gadis kecil, siapa namamu?"

"Sarania Arnada tante, panggil ajah Sara."
"Oh Tuhan, syukurlah ada kamu Sara. Soon anak yang manja kalau dia terluka mungkin dia hanya akan menangis sampai ada yang menolongnya."


Mama Soon melihat luka yang ada dilutut dan tanganku.

"Kamu juga terluka Sara? Kamu gak apa-apa?"

"Gak apa kok tante, aku udah biasa hehe."

"Tunggu sini bentar ya Sara tante mau telfon taxi dulu buat anter Soon sama tante ke rumah sakit."

"Kamu gak apa-apa Sara?"

“Aku gak apa-apa. Kamu seharusnya lebih menghawatirkan keadaan Ciping,
sepertinya dia lebih babak belur ketimbang kita bedua. Apa kepalamu masih sakit?"

"Iya, tadi aku sempat lihat ada darah di kain ini. Apa darah dikepalaku bocor?"

"Iya sedikit, tapi kamu gak usah khawatir, bendera kebangganku udah menahan darahnya kok!"

"Nih aku kembaliin."


Soon melepaskan kain yang ada dikepalanya dan memberikannya kepadaku,
beberapa detik kemudian darah mengucur kembali dari dahinya.

"Eitss, bawa ajah dulu gak apa Soon. Oh iya, ini aku punya sesuatu buat kamu. Nanti kalo abis dari dokter pake yah biar cepet sembuh!"

Sara menghitung luka Soon lalu mengambil plaster bergambar kartun di sakunya. Dua luka di kaki, satu ditangan dan satu dikepala. Lalu ia menghitung jumlah plester yang tersisa, pas empat buah.

"Nih, pas buat luka yang ini, ini, ini dan ini.
Itu plester terakhirku, jadi pastiin pakai yah Soon!"

"Terus kamu pake apa?"

"Ah udah gak apa, aku udah biasa jatuh. Nih bahkan plester di luka yang ini belum aku lepas."

Sara menunjukkan lengan belakangnya yang masih berplester dengan bangga sebelum akhirnya suara mobil berhenti didepan rumah Soon dan mama Soon keluar dengan membawa Tas tangan lalu menggendong Soon.

"Sara kamu ikut sekalian kerumah sakit yuk! Luka-lukamu perlu diobati juga."

"Gak usah tante aku udah biasa, sekarang tanteng buruan ke rumah sakit kepala Soon masih bocor tante!"

"Sara mendorong mama Soon lalu berlari pergi sambil mengayunkan tangan pada Soon dan mamanya."


"DADAAAH SOON!!"
Soon membalas ayunan tangan Sara lalu masuk kedalam mobil bersama mamanya.



                                                                      HALO!


Malam telah tiba, setelah makan malam Sara langsung melesat kekamarnya menghindari omelan orang tuanya tentang luka-lukanya dan Ciping yang babak belur sore ini. Sara duduk didekat jendela dikamarnya, harap-harap cemas munggu suara mobil yang mengangkut ibu-ibu dan seorang anak wanita yang cantik namun tidak kunjung datang. Sara mengambil kertas dan mulai mengambar bintang malam itu. Sebenarnya Sara tidak begitu paham nama-nama rasi bintang meskipun ia sudah berusaha mempelajarinya.

Namun ia tetap suka menggambarkannya. Lalu tiba-tiba saat Sara asik menggambar ia mendengar suara mobil berhenti, ia melongok keluar jendela dan melihat Soon dan mama nya keluar dari mobil. Ia merasa lega Soon sudah terlihat baik-baik saja dengan perban dikepalanya. Ia hendak berteriak memanggil Soon untuk menanyakan kabarnya, namun Soon dan mamanya sudah terlanjur masuk rumah. Sara cemberut karena tidak sempat menanyakan kabar Soon dan akhirnya hanya menatap kosong ke jendela disebrang kamarnya. Namun lamunan Sara dibuyarkan oleh lampu jendela yang menyala, Sara yang melihat Soon masuk kekamar dengan mamanya tanpa sadar meunduk sembunyi dan mengintip dibalik jendela. Ia melihat mama Soon mengucapkan selamat tidur padanya lalu memberikannya ciuman hangat lalu pergi tanpa mematikan lampu kamar. Tanpa sadar Sara tersenyum lebar menyadari kamar Soon bersebrangan dengannya.
         
Tiba-tiba muncul ide dikepala Sara. Sara membuka jendela kamarnya dan mengambil beberapa batu di pot depan jendela kamarnya yang tertanam bunga matahari. Ia melemparnya pelan ke jendela kamar disebrangnya. Namun Soon tidak juga merespon, beberapa batu ia lempar kembali sampai akhirnya terlihat siluet anak kecil yang kurus bangun dari kasur lalu berdiri menuju jendela. Soon menyimbak tirai kain tipis yang hampir transparan lalu melihat Sara dengan senyuman lebar dan disebrang jendelanya memegang kertas.

“apa kamu sudah baik-baik saja ?😊”

Soon tidak dapat menyembunyikan senyumnya dan melupakan perih di kepalanya, ia segera mencari kertas dan alat tulis. Ia menemukan sebuah spidol merah dilacinya.

“ya ya ya ! semua berkat plastermu !”

Soon menunjukkan plaster-plaster yang dipasangnya di kaki dan tangannya.

“tapi aku belum bisa memasang di kepalaku karena masih ada ini  ☹”

Soon menunjuk pada perban besarnya sambil cemberut. Sara tertawa, Soon gadis yang sangat imut dan manja.

“tidak apa-apa. sekarang tidur dan cepatlah sembuh lalu kita akan bermain bersama!”

Soon mengangguk sambil tersenyum lebar. Air mata mengalir diujung matanya.

“jagan cengeng! BYE!”

Sara menulis pesan terakhirnya lalu melambaikan tangannya. Soon membalasnya dengan lambaian tangan sambil mengusap air matanya lalu menutup jendelanya. Sara pun menutup jendelanya agar tidak ada hewan yan masuk, Sara tersenyum bahagia sambil melemparkan tubuhnya kekasur, akhirnya ia mempunyai seorang teman wanita di komplek ini. Ia sudah lelah berteman dengan teman-teman lelakinya yang sukanya saling bertengkar dan berusaha terlihat sok keren.


                                                                           
Teman selamanya!



Semenjak saat itu Soon dan Sara berteman baik. Mereka selalu bemain bersama selam libur sekolah beberapa minggu itu hingga akhirnya saat libur telah habis dan saatnya masuk sekolah. Sara sudah siap dengan kemeja putih dan rok merah khas anak Sekolah Dasar dengan tas punggung Pink di punggungnya. Rambutya dikuncir dua seperti biasanya, ia menunggu mamanya di halaman depan. Sara berangkat sekolah bersama dengan mamanya yang berangkat kerja.  Ia melihat halaman rumah Soon yang tepat disebelah rumahnya lalu mendadak mengingatkannya ia tidak pernah menanyakan apakah Soon sekolah atau tidak dan dimana ia sekolah. Ia hendak menghampiri rumah Soon untuk menanyakan ia sekolah dimana namun mamanya sudah menarik tangannya untuk segera masuk mobil karena sudah hampir terlambat. Akhirnya ia berangkat sekolah tanpa tahu Soon sekolah dimana. Sesampainya dikelas Sara duduk di kursi nomor dua dari belakang dekat dengan jendela, Sara suka merasakan angin yang berhembus dari jendela menerpa kulitnya. Tidak ada yang spesial hari itu, matematika tetaplah sulit dan membosankan. Sara memutuskan mengambar beberapa bungga matahari dibelakang bukunya. Lalu keasikannya tiba-tiba teralihkan karena wali kelas yang mengajar Bahasa Indonesia masuk di tengah pelajaran matematika. 
"Selamat siang anak-anak ibu punya pengumuman yang menyenangkan untuk kalian semua. Kalian akan mendapatkan teman baru yang sangat menarik. Oh iya teman kalian ini orang tuanya berasal dari negara yang jauh dari sini jadi kalian harus berteman baik dengannya yaa agar dia tidak kesepian."

Teman baru? Sara sontak mengehentikan aktivitas menggambarnya. Matanya penuh dengan semangat untuk mendapatkan teman baru. Ia meletakkan pensilnya dan menutup bukunya lalu fokus kedepan menanti kedatangan si anak baru. Sara sudah beinisiatif untuk mengajaknya main kerumah, pasti Soon akan senang bertemu dengan teman baru! Sara menahan tawanya membayangkan Soon yang malu-malu bertemu dengan siapapun teman barunya ini nanti.

"Ayo masuk, jangan malu-malu."

Pintu kelas dibuka, Sara sudah memfokuskan dirinya penuh pada teman barunya. Namun hal yang tidak terduga terjadi, sosok yang muncul dari balik pintu itu ualah sosok yang tidak asing lagi untuknya. Mata kecil indah kecoklatan yang jernih dan rambut coklat yang terlihat lezat namun tunggu rambut itu sudah dipangkas habis berbeda dengan sosok yang ia lihat disebrang jendela semalam namun tetap saja itu rambut coklat dan mata indah yang sangat ia kenal milik siapa lagi kalau bukan Soon. Tapi kenapa ia memangkas rambutnya, terlebih lagi yang membuat Sara kaget ialah Soon tidak memakai rok merah sepertinya tapi celana tiga perempat dengan dasi merah panjang yang seharusnya dipakai oleh laki-laki. Apa mamanya salah membelikan baju untuknya? 

"Kenalkan teman-teman ini teman baru kita, namanya Kim Jasoon. Papanya berasal dari negeri yang jauh dari sini, jadi kalau kalian penasaran tentang dunia luar kalian bisa bertukar cerita dengan dia."

Soon berjalan menuju papan tulis lalu menulis namanya. 

                                                            KIM  JASOON

Lalu melingkari kata Jasoon dua kali.

"Kalian bisa memanggilku Jasoon. Aku baru pindah kesini bulan ini jadi masih banyak hal baru untukku, mohon bantuannya."

Lalu Soon membungkukkan badannya 90° di depan kelas membuat seisi kelas hening. Sara hanya dapat tercengang, ia tahu benar bahwa anak didepannya ialah Soon nya, Soon dari Jasoon, Jasoon adalah Kim Jasoon yang ada didepan kelas sekarng. Bukan karena Soon masuk sekolah atau bahkan kelas yang sama dengan Sara yang membuatnya kaget, mengetahui bahwa Soon adalah laki-laki yang membuatnya tidak dapat mengatup mulutnya. Setelah beberapa waktu membungkuk Soon kembali berdiri lalu tersenyum ke semua teman sekelasnya, senyum yang sama seperti senyum yang selalu Sara lihat. Sara masih tercengang tidak dapat berkata-kata dikagetkan oleh suara Soon yang memanggilnya dari depan kelas. Soon baru menyadari ternyata Sara beada disekolah bahkan satu kelas dengannya. 

"SARA!"

Soon dengan santai melambaikan tangannya pada Sara, seisi kelas langsung menoleh pada Sara. 

"Jason kenal sama Sara?"

Tanya wali kelas.

"Iya, Sara tetangga daan teman baikku!"

"Bagus lah kalau begitu, bagaimana kalau kamu duduk di belakang Sara saja? Gadis kamu pindah ke sebelah Rere ya biar Jason duduk disitu."

Soon atau lebih tepatnya sekarang Jasoon berjalan dengan senyuman lebar duduk dibelakang Sara.

"Baiklah kalau begitu Ibu harap kalian dapat berteman dengan baik dengan teman baru kalian, selamat belajar!"

Sara merasakan punggungnya ditepuk beberapa kali dari belakang. Sara menoleh dan memadangi Soon yang sama sekali terlihat tidak seperti Soon biasanya kecuali mata indahnya. Rambut cepaknya benar-benar membuatnya terlihat seperti anak lelaki pada umumnya. Sara yang hanya diam saja tidak membalas senyuman Soon membuatnya mengerutkan alisnya.

"Kenapa? Apa ada yang salah denganku?"

"Tidak, selama ini aku pikir kamu bukan laki-laki."

"Benarkah? Apa aku terlalu cantik untuk jadi laki-laki?"

Tanya Soon antusias.

"Tidak, kamu terlalu jelek untuk jadi laki-laki."

Jelas Sara berbohong. 

"Tidak apa aku jelek asalkan kamu tetap mau jadi temanku, raa."

Sara tidak menyangka bahwa ada laki-laki seperti Soon yang tidak menyebalkan seperti laki-laki yang lain, seperti teman satu kelasnya, teman satu kompleknya ataupun ayahnya dan kakak laki-lakinya. Apa karena dia berbeda? Karena dia cantik seperti perempuan? Tanpa sadar Sara tersenyum lalu mengulurkan jari kelingkingnya pada Soon. 

"Teman Selamanya?"

Soon langsung menyambut tangan Sara tanpa pikir panjang lagi.

"Selamanya Teman!"

Pada saat itu Sara tidak menyadari, makna menjadi teman selamanya sebenarnya, batasan-batasan yang ada dari kata teman, apa yang harus direlakan dan dilepaskan menjadi teman selamanya. Sara maupun Soon tak menyadari itu, bagi mereka berdua saat itu teman selamanya sudah bagai memiliki seluruh dunia dan seisinya. 




apakah kau pernah memiliki seseorang yang terindah di hidup mu ? 
ia sangat sempurna seperti lingkaran yang di gambar dengan 
hitungan matematis
#bahasa #friendship #friendzone #ceritaindonesia



0

copyright © . all rights reserved. designed AFs and Color and Code

grid layout by unknow and helpblogger.com